Bagi kalangan mahasiswa, dosen, maupun peneliti tentunya tidak asing lagi dengan analisis Structural Equation Modeling (SEM). Analisis SEM merupakan penggabungan antara analisis regresi dan analisis faktor. Metode ini sangat powerfull sekali karena dirancang untuk dapat menganalisis suatu variabel laten (variabel yang tidak bisa diukur secara langsung). Metode analisis SEM digunakan untuk menguji sebuah model kausalitas (sebab-akibat) dengan mengkombinaskan data dengan teori. Dalam Analisis SEM terdapat 2 jenis analisis yakni Structural Equation Modeling-Covarian Based (SEM-CB) dan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM–PLS). Sebenarnya basic diantara keduanya sama, yaitu sama-sama digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogen. Namun, yang membedakan Adalah SEM-PLS pendekatanya berbasis varians & tidak memerlukan dasar teori yang kuat sedangkan CB-SEM pendekatannya berbasis kovarians dan memerlukan dasar teori yang kuat. Dengan mengetahui hal tersebut, maka peneliti bisa menentukan sendiri kira-kira yang cocok untuk digunakan dalam penelitiannya SEM-PLS atau CB-SEM. Untuk memudahkan kita dalam menganalisis data dengan metode SEM banyak sekali software yang bis akita gunakan, salah satunya Adalah SMARTPLS. SMARTPLS merupakan software yang pertama kali dikembangkan oleh institute of Hamburg Jerman. Software ini dirancang untuk membantu dan memudahkan mahasiswa, dosen, praktisi, maupun peneliti. Smartpls juga sangat ramah bagi para pengguna karena sudah dirancang untuk user friendly. Kendati dengan banyaknya kemudahan dalam penggunaanya, ternyata banyak mahasiswa, dosen, maupun peneliti yang kesusahan dalam menggunakannya. Kasus umum yang sering terjadi Adalah kebingungan mereka menghadapi data yang kurang bagus dari segi model struktural maupun model pengukuran. Contohnya misal di bagian analisis validitas konvergen terdapat banyak sekali indikator yang merah (tidak lolos validitas konvergen), mereka bingung bagaimana mengatasinya. Untuk mengatasi masalah tersebut, kami hadir sebagai Penyedia Layanan Jasa Olah Data SmartPLS Profesional, Terlengkap, dan Terpercaya yang sudah berpangalaman puluhan tahun dibidang Jasa Olah Data.
Output Apa Saja yang didapatkan?
Dalam menganalisis data menggunakan metode SEM tentunya ada 2 garis besar yakni model structural dan model pengukuran. Kami akan memberikan output lengkap untuk setiap modelnya. Berikut kami tampilkan output apa saja yang akan diterima klien jika menggunakan Jasa Olah Data SmartPLS kami.
1. Analisis Statistik Deskriptif
Sebelum kita menganalisis data menggunakan metode SEM tentunya kita perlu untuk menampilkan hasil analisis satatistik deskriptif dari data kita. Analisis statistik deskriptif ini berguna untuk melihat Gambaran umum dan juga distribusi dari data, sehingga kita mempunyai Gambaran awal tentang data kita atau insight yang nantinya dapat memberikan informasi yang berguna dalam melakukan analisis inferensia dengan metode SEM. Analisis statistik yang ditampilkan Adalah nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata, sdan standar deviasi dari data.
2. Validitas Konvergen (Outer Loading & average variance extracted (AVE))
Setelah melakukan analisis statistik deskriptif, Langkah selanjutnya Adalah menguji validitas data. uji validitas digunakan untuk mengukur sejauh mana indikator-indikator yang kita gunakan mampu mengukur variabel tersebut. Dalam analisis SEM terdapat dua pengujian validitas yakni, validitas konvergen dan validitas diskriminan. Validitas konvergen merupakan suatu pengujian yang digunakan untuk mengukur sebuah konstruk (indikator) dalam data apakah benar-bener dapat mengukur indikator tersebut seperti yang dijelaskan dalam teorinya.
Untuk mengukur validitas konvergen dalam analisis SEM, terdapat dua parameter yang bis akita gunakan yakni, nilai outer loading dan & average variance extracted (AVE). Mari kita bahas satu-satu, pertama Adalah outer loading. Outer loading merupakan nilai korelasi antara indikator dengan variabel latennya. Sedangkan untuk AVE Merupakan sebuah ukuran yang mengukur besarnya kergaman (varians) dari variabel laten yang bisa dijelaskan oleh konstruknya (indikatornya). Kriteria yang sering dipakai dalam mengambil Keputusan Adalah apabila nilai outer loading 0.7 & AVE 0.5, maka dapat dikatakan bahwa variabel laten kita memenuji kriteria validitas konvergen. Namun, ada Sebagian pendapat yang menyatakan bahwa nilai outer loading 0.5 sudah cukup dan memenuhi kriteria validitas konvergen. Kendati demikian default software smartpls menyarankan untuk nilai outer loading yang baik Adalah 0.7.
Dalam proses analisis validitas konvergen ini kebanyakn peneliti, mahasiswa, maupun dosen kesulitan Ketika menghadapi data yang tidak lolos uji. Entah itu outer loading ataupun AVE nya tidak memenuhi kriteria. Untuk itu, kami hadir untuk membantu mahasiswa, dosen , maupun peneliti untuk membantu dalam mengatasi masalah tersebut. Sigma Statistika merupakan Lembaga Penyedia Jasa Olah Data SmartPLS professional dan sudah dipercaya puluhan klien dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia.
3. Validitas Diskriminan (Matriks Cross Loading, Fornell-Lacker, Dan kriteria HTMT)
Setelah selesai melakukan analisis validitas konvergen dengan outer loading dan AVE, Langkah selanjutnya Adalah uji validitas diskriminan. Validitas diskriminan ini dilakukan guna memastikan bahwa setiap konstruk yang membangun variabel laten akan unik (berbeda dengan konstruk lainnya). Dalam melakukan uji validitas diskriminan ini, terdapat tiga kriteria atau parameter yang bis akita gunakan yakni, Matriks cross loading, kriteria fornell lacker dan HTMT. Pertama, matriks cross loading, suatu kostruk atau indikator dikatakan memenuhi keiteria validitas diskriminan jika nilai cross loading antara kostruk tersebut dengan laten variabelnya lebih tinggi dibandingkan nilai cross loading antara konstruk tersebut dengan variabel lainnya. Kedua, dalam kriteria fornell lacker dapat dikatan memnuhi kriteria pengujian validitas diskriminan jika nilai fornell lacker antara laten variabel dengan dirinya sendiri lebih besar dibandingkan dengan variabel laten lainnya. Terakhir, dalam pengujian validitas dengan kriteria HTMT bisa dikatakan memenuhi kriteria validitas jika nilai matriks HTMT nya < 0.9. Dari ketiga kriteria tadi yang kami sarankan Adalah kita gunakan kriteria HTMT nya karena HTMT sudah dirancang untuk memperbaiki kesalahan dari 2 parameter sebelumnya (seperti yang disarankan di website resmi smartpls). Namun, kami akan tetap memberikan semua hasil dari ketiga kriteria pengujian validitas diskriminan tersebut.
Sama seperti sebelumnya, banyak kalangan peneliti dan akademisi yang bingung jika dari ketiga kriteria tersebut tidak memenuhi kriteria dalam uji validitas diskriminan untuk analisis SEM. Untuk itu, kami hadir membantu mereka untuk mengatasi masalah tersebut. Perkenalkan, Sigma Statistika merupakan Lembaga yang menyediakan jasa olah data dan konsultasi statistik. Lembaga yang punya kredibel dan punya pengalaman mengerjakan berbagai project Jasa Olah Data SmartPLS.
4. Reliabilitas (Cronbach Alpha & Composite Reliablity)
Langkah selanjutnya setelah melakukan uji validitas Adalah uji reliabilitas. Pengujian reliabilitas digunakan untuk menguji konsistensi dari suatu alat ukur. Dalam analisis SEM pengujian reliabilitas ini menggunakan dua parameter yakni Cronbach Alpha dan Composite Reliablity. Kriteria pengambilan Keputusan Adalah apabila nilai Cronbach Alpha dan Composite Reliablity > 0.7 maka dapat dikatakan bahwa data kita memenuhi kriteria uji validitas. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa data yang kita gunakan sudah memenuhi kriteria pengujian reliabilitas apabila nilai Cronbach Alpha dan Composite Reliablity >0.6
Bingung mengatasi data yang tidak reliabel dalam analisis SEM dengan Smartpls? Tenang, percayakan kepada kami Sigma Statistika sebuah Lembaga yang bergerak di bidang jasa olah data. Kami melayani jasa olah data SmartPLS professional dan berpengalaman puluhan tahun dalam menangani project dari klien dari top university di Indonesia.
5. Variance inflation factor (VIF)
Setelah memastikan bahwa data kita lolos dalam pengujian validitas dan reliabilitas dalam analisis SEM (model struktural). Maka selanjutnya kita akan lanjut ke dalam model pengukuran untuk cek apakah terdapat korelasi yang tinggi antara setiap variabel laten eksogen atau tidak, karena jika terdapat korelasi yang tinggi antara variabel laten eksogen kita maka akan mempengaruhi hasil analisis datanya, hasil analisis datanya bisa menjadi bias. Untuk memastikan hal tersebut, maka kita perlu melakukan uji multikolinieritas dengan menggunakan nilai VIF. Kriteria pengambilan Keputusan dalam uji VIF ini Adalah apabila nilai VIF dalam setiap variabel laten eksogen kita < 10, maka dapat dipastikan bahwa model yang kita gunakan tidak mengalami masalah dalam multikolineritas data, sehingga dapat kita lakukan analisis lanjutan dengan analisis SEM.
Dalam parktiknya, kadang banyak para peneliti mengalami masalah dengan nilai VIF yang > 10. Tenang saja untuk mengatasi masalah tersebut percayakan kepada kami, kami mempunyai cara dan strategi jitu untuk mengatasi masalah multikolinieritas dalam data ini. Sigma statistika merupakan layanan jasa olah data yang sudah berpengalaman dan sudah kredibel dipercaya oleh klien. Salah satu layanan kami Adalah Jasa Olah Data SmartPLS terlengkap, terpercaya, kredibel, dan professional.
6. R-Square
Setelah memastikan bahwa setiap variabel laten eksogen kita tidak mempunyai korelasi yang tinggi, Langkah selanjutnya adlaah menguji seberapa besar sih pengaruh variabel laten eksogen kita terhadap variabel laten endogennya. Dalam pengujian ini, kita gunakan nilai R-Square. Dalam konsepnya, nilai r-square berkisar antara 0-1. Semakin tinggi nilai r square nya maka model yang kita bangun akan semakin baik. Semakin tinggi nilai r square nya bis akita katakana bahwa variabel laten eksogen kita mampu menjelaskan variabel laten endogen kita dengan baik. Berarti hal ini sesuai dengan kehendak kita dan sesuai dengan teori yang kita gunakan dalam emmbangun model SEM ini.
Namun dalam realitanya, seringkali mahasiswa, dosen, ataupun peneliti menemukan nilai r-square mereka sangat kecil. Sebenernya tidak ada masalah dengan itu semua, karena memang datanya menunjukkan seperti itu. Cuman kadang ada Sebagian peneliti yang ingin memastikan bahwa model yang mereka bangun itu sesuai dengan teori yang mereka gunakan dalam membangun model. Untuk mengatasi masalah tersebut kami saiap membantu, tim statistik sigma statistika sudah mempunyai pengalaman dalam mengerjakan project olah data smartpls mulai dari S1 samapai S3, mulai dari kampus swasta sampai top university. Tunggu apalagi silahkan hubungi kami sigma statistika Lembaga yang menyediakan Jasa Olah Data SmartPLS professional dan berpengalaman.
7. F-Sqaure
Kalau R-Square tad ikan digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogen secara simultan. F-square ini kita gunakan untuk mengetahui besarnya variabel laten eksogen terhadap variabel laten eksogen secara parsial. Gampangnya gini, kalau r-square itu besarnya pengaruh seluruh variabel laten eksogen terhadap variabel laten endogen, sedangkan f-square ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh setiap variabel laten eksogen terhadap variabel laten eksogen secara parsial (sendiri-sendiri).
Nilai f square dikategorikan menjadi 3 macam: pengaruh kecil jika nilainya < 0.02 , pengaruh sedang jika nilainya diantara 0.02 dan < 0.15 , pengaruh besar jika nilainya sama dengan atau lebih dari 0.35. Namun dalam model mediasi dan moderasi nilai ini bisa berubah karena menyesuaikan modelnya. Bingung karena nilai f square dalam penelitianya terlalu kecil? Tenang kami siap membantu anda. Sigma statistika siap memberikan layanan Jasa Olah Data Smartpls terbaik garansi sampai ACC.
8. Q-Square
Kalau R-Square dan F-Square tad ikan digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel laten eksogen terhadap laten endogen, sedangkan Q-Square ini kita gunakan untuk melihat predictive relevance dari model. Jadi, apakah model kit aini mempunyai predictive relevance yang baik atau tidak. Dengan kata lain, apakah variabel laten eksogen kita mampu memprediksi laten endogen dengan baik atau tidak. Kriteria pengujain Q-Square adalaah apabila nilai q-square dalam model kita > 0, maka dapat kita simpulkan bahwa model kita memiliki predictive relevance yang baik.
Masih bingung dengan analisis SEM menggunakan software Smartpls? Bingung kenapa hasil pengujiannya kok tidak lolos semua? Tenang tim satatsistik sigma satatistika siap membantu anda. Kami menyediakan Layanan Jasa Olah Data Smartpls kepada mahasiswa, dosen, maupun peneliti agar memberikan hasil yang akurat dan sesuai dengan yang mereka kehendaki.
9. PLS-Predict
Pls-Predict kita gunakan untuk menggambarkan prediksi dari model yang telah kita buat, namun kita hanya membandingkan antara nilai PLS dengan linier model. Parameter yang kita gunakan untuk mengujinya Adalah dengan menggunakan Mean Absolute Error (MAE) dan Root Mean Square Error (RMSE). Kriteria tolok ukur PLS-Predict perbandingan nilai MAE atau RMSE dengan linier model Adalah jika indikator yang kita gunakan memiliki nilai MAE dan RSME lebih tinggi dari linier model, maka kita dapat mengambil Kesimpulan bahwa model yang kita buat tersebut memiliki tingkat prediksi yang tinggi.
Memang agak sulit dalam memahami PLS-Predict ini, apalagi jika kita tidak punya background statistik yang kuat. Untuk itu kami menyediakan layanan Jasa Olah Data Smartpls bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti untuk membantu mereka dalam analisis SEM. Sehingga mereka yang kurang faham dengan statistik masih tetap bisa melanjutkan penelitian mereka tanpa belajar lebih dalam lagi tentang statistik (karena hal ini akan sangat menguras waktu mereka).
10. Goodness of fit (Gof)
Kriteria terakhir untuk mengukur kebaikan dari model yang kita buat Adalah Goodness of fit (GoF). GoF merupakan indeks kesesuaian model yang dikembangkan untuk memperhitungkan kinerja dari model pengukuran maupun model strukturalnya. Perhitungan GoF melibatkan nilai AVE dan R-Square. Jadi rata-rata dari nilai AVE kemudian kita kalikan dengan rata-rata R-Square lalu kita akar pangkat dua. Nilai Go Fini berkisar antara 0-1. Kriteria pengambilan Keputusan dalam uji ini Adalah apabila nilai GoF kita lebih besar dari 0,36 maka dapat kita kategorikan bahwa nilai GoF kita besar sehingga model yang kita susun baik.
Dalam proses analisi SEM, sering kami menemukan nilai GoF yang tidak sesuai dengan harapan. Untuk itu kami siap membantu klien dalam mengatasi masalah tersebut. Tunggu apalagi silahkan hubungi kami sigma statistika Lembaga jasa olah data Smartpls Terbaik.
11. Hasil pengujian hipotsis dengan boostrapping
Langkah paling terakhir dalam analisis SEM Adalah menguji hipotesis dengan Teknik boostrapping. Kriteria pengambilan Keputusan dalam pengujian hipotesis itu ada 2, kitab isa menggunakan nilai t statistik maupun nilai p-value. Jika kita gunakan nilai t statistic maka kita masih perlu mencari dulu nilai t tabelnya , karena nnti akan kita bandingkan dengan nilai t tabel. Oleh karena itu, kami menyarankan untuk memakai nilai p-value nya saja. Jika nilai p-value kita <0.05 maka hipotesis yang kita buat dapat diterima.
Kesulitan dalam olah data sem dengan smartpls??? Segera hubungi kami. Sigma Statistika Lembaga Jasa olah data professional, terpercaya dan berpengalaman puluhan tahun. Tim professional statistik kami siap membuntu anda. Penyedia layanan Jasa Olah Data Smartpls Terbaik, terpercaya, terlengkap, dan berpengalaman dibidan SEM.


Bagaimana cara nya kalau saya mau memakai jasa mengolah data dengan sem pls dari skripsi saya?
silahkan hubungi wa kami kak : 0821-4215-2849